Pematang raya, metrorayanews.com
Di bawah langit di pagi hari yang teduh dan hembusan angin yang lembut, halaman SMP Negeri 1 Pematang raya menjadi saksi bisu sebuah momen tak terlupakan. Sabtu 24/5/2025 Sebanyak 356 siswa kelas IX dilepas dalam acara perpisahan yang bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan cinta, kenangan, dan harapan.
Tak ada pesta yang abadi, dan hari itu menjadi bukti bahwa waktu telah membawa mereka ke ujung perjalanan di bangku SMP. Tangis haru, senyum bangga, dan pelukan hangat mewarnai suasana. Setiap langkah di panggung, setiap kata yang diucapkan, seperti membawa kembali potongan kenangan tawa di kelas, teguran lembut guru, hingga perjuangan bersama menghadapi acara perpisahan.
Acara dimulai dengan pembacaan puisi perpisahan yang mengalun syahdu, menggambarkan betapa dalamnya rasa terima kasih dan cinta dari siswa kepada para guru. Tarian tradisional dan drama yang dimainkan siswa menghadirkan nuansa nostalgia, seolah ingin berkata: “Terima kasih untuk segalanya.”
Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SMPN 1 Pematang raya, Bapak Lamhot H. Saragih, M.Pd, menyampaikan pesan yang penuh kehangatan dan harapan.
“Hari ini bukanlah akhir, tetapi awal dari babak baru dalam hidup kalian. Jadilah cahaya di manapun kalian melangkah. Kami bangga, dan kami percaya, masa depan yang indah sedang menanti,” ucapnya lirih, dengan suara yang nyaris pecah karena haru.
Beliau juga menyampaikan salam penuh hormat kepada orangtua siswa, yang meski tidak hadir secara langsung, diyakini hadir lewat setiap doa dan pengorbanan.
“Untuk ayah dan ibu yang setia menanti di rumah, terima kasih karena telah mempercayakan anak-anak hebat ini kepada kami. Cinta kalian adalah kekuatan terbesar mereka,” tuturnya.
Tawa pecah di sela haru saat kelas IX K menampilkan drama parodi tentang keseharian guru. Bukan untuk mengejek, tapi untuk merayakan karakter unik para pengajar yang diam-diam telah menjadi bagian paling manis dari perjalanan mereka. Adegan-adegan lucu itu membuat para guru tersenyum sambil menahan air mata.
Pentas seni terus berlanjut, mengalir seperti alunan rindu yang tak ingin lekas usai. Vokal solo, puisi musikal, tarian lokal dan tari modern, hingga pertunjukan drama parodi semuanya ditampilkan dengan penuh cinta. Satu demi satu, para siswa menorehkan kenangan terakhir di atas panggung tempat mereka tumbuh dan belajar.
Saat acara ditutup dengan doa dan harapan. Ada yang menangis dalam diam, ada pula yang memeluk erat sahabat di sampingnya. Namun semua sepakat perpisahan ini bukan tentang berakhirnya kebersamaan, melainkan janji dalam hati untuk terus membawa kebaikan, di manapun langkah mereka tertuju. J Edward






