Simalungun, metrorayanews.com,
Sebuah pemandangan yang menggelitik perhatian publik muncul di jantung pemerintahan Kabupaten Simalungun. Rumah doa Kristiani yang berdiri persis di samping rumah dinas Bupati Simalungun, Anton Saragih, tampak berdiri tanpa salib, simbol iman utama yang mestinya melekat di setiap rumah ibadah umat Kristiani.
Keberadaan bangunan suci tanpa salib itu menimbulkan pertanyaan mendasar. Bagaimana mungkin fasilitas yang berada begitu dekat dengan kediaman resmi bupati dibiarkan kosong dari simbol yang begitu esensial? Apakah ini sekadar kelalaian, atau justru cerminan dari kepedulian yang belum utuh?
Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Simalungun, Albert Saragih, saat dikonfirmasi Selasa,19/08/2025. Beralasan bahwa salib tersebut sudah rusak. “Salib yang ada di rumah doa untuk umat Kristiani itu sudah rusak,” katanya singkat.
Namun, alasan itu justru mempertebal rasa heran masyarakat. Jika benar rusak, bukankah seharusnya segera diganti? Atau memang menunggu kritik ramai-ramai baru ada gerakan memperbaiki? Ironi terasa semakin dalam ketika hal sesederhana mengganti simbol iman pun tampak tak masuk dalam daftar prioritas pemerintah.
Sejumlah kalangan menilai, kelalaian ini tidak bisa dianggap remeh. Di sebuah kabupaten yang kerap bicara soal kerukunan, mengabaikan keberadaan salib di rumah doa yang berdiri tepat di sisi rumah dinas bupati sama saja memperlihatkan bahwa perhatian pada hal-hal mendasar dalam kehidupan beragama masih setengah hati.
Seorang warga yang enggan disebut namanya mengungkapkan, masyarakat Simalungun selama ini dikenal sangat plural dan menjunjung tinggi toleransi. “Nilai itu harus tetap dipertahankan demi menjaga ketenteraman dan rasa persaudaraan yang tinggi di tengah-tengah masyarakat. Jangan sampai kelalaian kecil justru mengikis kepercayaan dan harmoni yang sudah lama terjaga,” ujarnya.
Bupati Anton Saragih, sebagai pemimpin daerah, tentu ditunggu tindakannya. Kepedulian tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata besar di podium, melainkan pada langkah sederhana yang menyentuh batin masyarakat. Mengganti salib yang rusak, misalnya, akan jauh lebih bermakna ketimbang seribu janji tentang toleransi.
Salib bukan sekadar tanda, melainkan identitas iman yang seharusnya dijaga. Ketidakhadiran salib di rumah doa yang berdiri di samping rumah dinas bupati kini menjadi pertanyaan tajam, apakah kepemimpinan di Simalungun benar-benar memahami kebutuhan rohani masyarakatnya, atau lebih sibuk mengurus panggung seremonial yang tak berbekas di hati masyarakat?.
*J04*






